Kamis, 07 Mei 2015

Kisah kasih seorang ibu

Cernalah kata demi kata, jangan tergesa-gesa untuk membacanya..
IBU terdiri dari 3 kata yang mempunyai banyak arti dan makna. Aku terlahir dari seorang wanita mulia bernama Ibu. Seorang wanita yang kukenal sebagai sosok yang kuat, sabar, dan tabah. Wanita yang kuanggap sebagai penyejuk kehidupanku.
IBU adalah pahlawan, sahabat, kekasih, pelindung, penasehat, dan segala2nya bagi aku. Itu mungkin masih kurang cukup ungkapan yg pantas aku berikan untuk ibu ku tercinta. Tanpa beliau aku bukanlah siapa-siapa, aku tak mungkin bisa berdiri tegak dan mampu menghadapi berbagai pencobaan hidup yg terkadang itu teramat sangat luar biasa berat. Tapi ada di sisinya aku merasa kalo aku mampu menghadapinya.
Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun. Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa.
Beruntunglah kita yang masih mempunyai ibunda yang sangat sayang sama kita,yang sangat peduli terhadap kita dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibu. Mungkin kebanyakan orang belum pernah merasakan yang namanya mempunyai orang tua tunggal seperti saya. Setelah saya ditinggal oleh alm bapak saya, saya merasakan yang namanya perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Ibuku mempunyai 3 anak yang hebat-hebat, setelah kami di tinggal oleh seorang ayah yang selalu memberikan nafkah untuk kami, kami baru merasakan yang namanya ayah sangat di perluka,karena tanpa ayah aku dan kakak-kakakutidak akan bisa seperti ini.
 Setelah kepergian ayahku, ibuku lah yang menjadi kepala rumah tangga sekaligus menjadi ibu rumah tangga, betapa hebatnya ibuku bisa menjalankan tugas keduanya, walaupun disaat-saat tertentu ibuku selalu terlihat lelah,yah tidak gampang untuk menjadi seorang ibu sekaligus bapak. Yang aku salut dari ibuku, ibuku tidak pernah mengeluh akan lelahnya fisik yang ia alami, dia selalu terlihat bersemangat di depan anak-anaknya, namun aku dan kakak-kakaku bisa merasakan apa yang ibu rasakan.
Hari demi hari anak mu semakin tumbuh besar dan dewasa, makin sibuk dengan kesibukkannya masing-masing, waktu dulu aku dan kakak-kakaku selalu ada di sampingnya, namun sekarang anak-anakmu berpisah dengan ibu, anak-anakmu sedang menata masa depannya yang lebih baik. Maaf kan kami bertiga ibu, apabila kami jarang mempunyai waktu bersama dengan ibu, tapi kami tidak akan pernah atau sedikitpun rasa sayang kami terhadap ibu luntur.
Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?

Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar